Jakarta – Lampung kembali dilanda tragedi. Sekelompok warga Mesuji, Lampung melaporkan pembantaian yang diduga dilakukan oleh aparat penegak hukum pada awal 2011 ke Dewan Perwakilan Rakyat. Hukum harus ditegakkan dan pemerintah harus bertindak menuntaskan tragedi ini.
Pekan ini puluhan warga Mesuji, Lampung, mengadu ke Komisi Hukum DPR tentang pembunuhan keji di daerah mereka saat terjadi penggusuran terhadap lahan warga. Atas kekejian ini, sekitar 30 warga Lampung tewas.
Dalam pengaduan mereka ke Komisi III DPR ini, warga Lampung yang diwakili oleh kuasa hukum Bob Hasan memutar video kekerasan di Mesuji tersebut. Dalam video itu diperlihatkan adanya pembantaian yang dilakukan dengan keji oleh orang-orang berseragam aparat.
Ada dua video yang merekam proses pemenggalan dua kepala pria, sementara tampak satu pria bersenjata api laras panjang dengan penutup kepala sedang memegang kepala yang telah terpenggal. Selain merekam pembunuhan keji itu, video lain juga memperlihatkan pengrusakan rumah penduduk.
“Bangunan ibadah dihancurkan, hasil panen singkong juga dirampas. Aparat juga melakukan pemerkosaan terhadap janda, pada saat penggusuran,” kata Bob Hasan di Gedung DPR, Rabu 14 Desember 2011.
Peristiwa ini berawal dari perluasan lahan oleh perusahaan PT Silva Inhutani sejak 2003. Perusahaan yang berdiri pada 1997 itu terus menyerobot lahan warga untuk ditanami kelapa sawit dan karet.
Mantan anggota DPR Mayor Jenderal (Purn) Saurip Kadi yang ikut mendampingi warga mengatakan, perusahaan Silva Inhutani kesulitan mengusir penduduk, sehingga kemudian meminta bantuan aparat. Perusahaan itu juga membentuk kelompok keamanan sendiri. Bentrokan dan kekerasan terjadi karena kejahatan oknum perusahaan,preman dan aparat Negara.
Ketua Komisi Nasional Ham Asasi Manusia, Ifdhal Kasim, menyatakan bahwa pembunuhan keji terhadap warga Mesuji, Lampung, adalah kasus lama yang terjadi pada awal 2011. Komnas HAM, menurut Ifdhal, bahkan sudah sejak lama melaporkan kasus tersebut kepada pihak yang berwajib.
“Kasus itu sudah pernah kami selidiki, bahkan kami sampaikan dan laporkan ke polisi. Tapi belum ada tindakan sampai sekarang, seperti dibiarkan,” kata Ifdhal. Komnas HAM menyesalkan polisi yang tidak cepat mengusut konflik Mesuji yang berakhir dengan pembunuhan bahkan pembantaian tersebut.
Ifdhal menjelaskan, pembunuhan di Mesuji terjadi karena konflik antarmasyarakat. “Preman-preman pemilik tanah diduga membunuh petani yang menyerobot tanah suatu perusahaan,” ujar Ifdhal. Bahkan pembunuhan semacam itu bukan hanya terjadi sekali di Lampung.
“Di daerah situ memang banyak konflik tanah yang yang berakhir dengan pembunuhan. Selain Mesuji, terjadi juga di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Di sana memang daerah yang sangat keras,” kata Ifdhal.
Video pembunuhan-pembunuhan itu bahkan sudah lama beredar di publik. Sebetulnya video itu tidak bisa dilihat oleh umum, karena itu kekejaman yang sangat luar biasa. “Pelakunya pun seharusnya segera ditangkap dan diadili,” tegas Ifdhal.
Kutukan terhadap pelaku dalam peristiwa ini telah datang dari berbagai kalangan. Kekerasan dari Mesuji harus diakhiri dengan langkah pemerintah untuk melakukan penegakan hukum yang seadil-adil-nya dan sejujur-jujurnya.
Source : http://mas.bi2t.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar